PROPOSAL STUDI KESIAPAN RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS DALAM MENDUKUNG PROGRAM BAHTERAMAS

OLEH : SUHADI

ABSTRAK

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan survei dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kesiapan Rumah Sakit Dan Puskesmas se-Sulawesi Tenggara dalam mendukung program bahteramas di sulawesi tenggara

Target khusus yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini adalah untuk mendapatkan berbagai macam data dan sejumlah informasi yang diperlukan untuk perumusan dan penetapan kebijakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dimasa yang akan datang dengan melihat kondisi potensial saat ini mengenai kesiapan dan hambatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Dan Puskesmas se-Sulawesi Tenggara dalam mendukung program Bahteramas di Sulawesi Tenggara tahun 2009

Deskripsi Rencana Kegiatan

Rencana kegiatan ini akan dilakukan dalam beberapa tahap :

  1. Tahap Studi Kepustakaan dan penelusuran Lapangan
  2. Tahap Persiapan penyusunan proposal
  3. Tahap Pleno Pembahasan Proposal
  4. Tahap Perbaikan-Perbaikan Proposal
  5. Tahap Pelaksanaan survei lapangan dan pengumpulan data
  6. Tahap Pengolahan data dan analisis data
  7. Tahap Penyusunan laporan dan rekomendasi
  8. Tahap seminar hasil penelitian dan perbaikan-perbaikan hasil penelitian
  9. Tahap publikasi data dan laporan.

10.  Advokasi ke pemangku kebijakan

BAB I  PENDAHULUAN

  1. a. Latarbelakang

Memasuki era globalisasi, menguatnya tuntutan reformasi dan adanya komitmen politik untuk menerapkan otonomi daerah yang memberi kewenangan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya lokal, merupakan peluang sekaligus tantangan bagi daerah, termasuk bagi daerah sulawesi Tenggara untuk menjadi daerah yang maju dan sejahtera yang didukung oleh prinsip-prinsip moralitas yang kuat. Globalisasi dan otonomi daerah menyebabkan semakin ketatnya persaingan antar negara dan daerah dalam memanfaatkan dan mengembangkan potensi sumberdaya lokal untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam kerangka mencapai tujuan tersebut, pembangunan kesehatan dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan.

Makna kesejahteraan bagi masyarakat luas adalah terciptanya berbagai kemudahan untuk mengakses kebtuhan hidup yang paling esensial seperti sandang, pangan dan papan serta adanya peluang untuk mendapatkan kesempatan belajar serta dengan mudah memperoleh pelayanan kesehatan. Pendidikan dan kesehatan merupakan dua kebutuhan masyarakat yang diharapkan datang dari pelayanan pemerintah. Persoalan-persoalan dalam menerjemahkan “ kesejahteraan” menjadi sangat rimut bila dikaitkan dengan berbagai tata cara pengelolaan pemerintah khsunya anggaran pembangunan. Tidak satupun alasan penyusunan program terlepas dari atau ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Permasalahan utama dalam pembangunan kesehjatraan masyarakat adalah rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan masih tingginya angka kematian bayi, anak balita, dan ibu maternal, serta meningkatnya proporsi balita yang menderita gizi kurang. Masih tingginya angka kematian disebabkan oleh berbagai penyakit menular serta kecenderungan semakin meningkat penyakit degeneratif. Kesenjangan kualitas kesehatan dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu juga disebabkan oleh adanya kesenjangan antar wilayah/daerah, sumber daya alam yang tersedia dan antar kelompok status sosial ekonomi. Selain itu, belum memadainya jenis, jumlah, kualifikasi pendidikan, distribusi, komposisi dan mutu tenaga kesehatan. Penyebab lain oleh karena belum meratanya kebijakan pelayanan kesehatan, lemahnya aspek manajemen pelayanan, terbatasnya sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan, minimnya dana pembiayaan dan belum optimalnya alokasi pembiayaan kesehatan.

Otonomi daerah yang hakikatnya adalah desentralisasi merupakan perubahan fundamental dalam sistem pemerintahan. Perubahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi yang mendadak (dalam waktu singkat) sering memberikan respon yang negatif yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan dalam pelaksanaan program termasuk program pembangunan di bidang kesehatan. Untuk meminimalisasi dampak negatif dari kebijakan otonomi daerah tersebut maka paling tidak diperlukan : (1) komitmen dari semua pihak terkait bahwa pentingnya kesehatan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan prinsip paradigma sehat dan pembangunan berwawasan kesehatan, (2) kelangsungan dan keselarasan pembangunan kesehatan, (3) ketersediaan dan pemerataan sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas, (4) kecukupan pembiayaan kesehatan, (5) kejelasan pembagian kewenangan dan pengaturan kelembagaan, (6) kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan, dan (7) kemampuan manajemen kesehatan dalarn penerapan desentralisasi. Ketujuh isu tersebut masih menjadi permasalahan fundamental dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah.

Ada dua sisi yang menjadi pusat perhatian dalam peningkatan pelayanan kesehatan yaitu peningkatan keterjangkauan dan mutu fasilitas kesehatan serta meningkatkan partisipasi dan akses masyarakat dalam pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu telah dicanangkanlah program BAHTERAMAS pelayanan kesehatan gratis oleh pemerintah propinsi Sulawesi Tengggara, yang menjadi icon “gerak langkah” gubernur Sultra, H. Nur Alam, S.E dalam konteks pembangunan kesehatan SULTRA ke depan. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan program bahteramas termasuk kesiapan sumber daya rumah sakit dan puskesmas sebagai gate kipper pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

  1. b. Rumusan Masalah

Bagaimana Kesiapan Rumah Sakit Dan Puskesmas Dalam Mendukung Program Bahteramas Di Sulawesi Tenggara Tahun 2009

  1. c. Tujuan Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat diketahuinya bagaimana Kesiapan Rumah Sakit Dan Puskesmas se-Sulawesi Tenggara Mendukung Program Bahteramas Di Sulawesi Tenggara Tahun 2009 ditinjau dari aspek sarana dan prasarana, jenis pelayanan, manajemen pelayanan, sumber daya manusia, kompensasi, tarif pelayanan

c.   Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diperoleh suatu manfaat dalam menyediakan data dan informasi tentang Kesiapan Rumah Sakit Dan Puskesmas Dalam Mendukung Program BAHTERAMAS Di Sulawesi Tenggara yang diperlukan bagi pemerintah propinsi dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan pelayanan kesehatan saat ini dan masa yang akan datang.

BAB 2. PENTINGNYA ATAU KEUTAMAAN RENCANA PENELITIAN INI

  1. Tercapainya Visi Indonesia Sehat 2010 dan sulawesi tenggara sehat 2010
  2. Membangun komitmen pemerintah, provinsi, kabupaten / kota, serta peningkatan kemitraan dengan swasta dan masyarakat guna memaksimalkan sumber daya yang tersedia untuk program kesehatan
  3. Pemantapan kebijakan pemerintah untuk mendukung kesehatan
  4. Advokasi dan sosialisasi kebijakan dan progran kesehatan
  5. Meningkatkan kesadaran dan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan
  6. Mengembangkan pelayanan kesehatan komprehensif yang bermutu, terjangkau, berjenjang dan berkelanjutan melalui peningkatan kompetensi tenaga  kesehatan, ketersediaan sarana dan prasarana serta didukung data dan informasi berdasarkan evidence-based
  7. Rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
  8. Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata.
  9. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk miskin

BAB 3. STUDI PUSTAKA/HASIL YANG SUDAH DICAPAI DAN STUDI PENDAHULUAN YANG SUDAH DILAKSANAKAN.

Indonesia sehat tahun 2010 dan keluarga berkualitas tahun 2015 merupakan tantangan pembangunan kesehatan didalam menciptakan derajat kesehatan yang optimal untuk mencapai kualitas masyarakat yang maju dan mandiri. Peningkatan derajat kesehatan akan membawa perekonomian semakin kompetitif dalam kanca global, sebab kesehatan bukan saja penting untuk meningkatkan kesejahteraan setiap individu, akan tetapi juga untuk menjamin kesinambungan pembangunan.

Berbagai indikator utama kesehatan dan kualitas hidup manusia ternyata belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan laporan indeks pembangunan manusia 2003 yang dikeluarkan secara resmi oleh program pembangunan perserikatan bangsa-bangsa (UNDP), IPM Indonesia mengalami penurunan dari 0,684 (2002) menjadi 0,682 (2003). Artinya, peringkat Indonesia bergeser dari 110 ke 112 dari 175 negara. Jauh di bawa singapura dan Brunei Darussalam, bahkan kita di bawa Vietnam. Penurunan IMP ini menunjukkan Indonesia kini mengalami degradasi kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004, kondisi kesehatan di Indonesia juga memang masih tertinggaldibanding sejumlah Negara asia lainnya seperti Thailand, Malaysia, Srilangka, Brunei Darussalam. Indikator umur harapan hidup Indonesia berada diperingkat 103 dari 191 negara, angka kematian bayi sebanyak 47 per 1000 kelahiran, angka harapan hidup laki-laki 63,45 tahun dan perempuan 67,3 tahun, dan jumlah balita kurang gizi sebesar 10,36%.

Kondisi kesehatan di Indonesia juga semakin diperburuk dengan kenyataan masih banyaknya jumlah keluarga miskin yang berdasarkan data BPS tahun 2003, jumlah penduduk miskin sebesar 38,4 juta orang atau 18,20% dari jumlah penduduk, fakir miskin 15,5 juta,anak terlantar sebanyak 3,1 juta, dan pengangguran terbuka 8,10% dari jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas (sekitar 40 juta orang), dan masih lemahnya daya beli masyarakat. Hal ini merupakan tantangan bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai pembangunan kesehatan.

Peningkatan kemampuan daya saing bangsa memerlukan peran serta masyarakat dan penyedia jasa pelayanan kesehatan. Globalisasi dunia dan AFTA 2003 menyebabkan iklim persaingan dibidang pelayanan kesehatan semakin ketat karena permintaan dan penawaran jasa pelayanan kesehatan pada akhirnya diserahkan ke mekanisme pasar. Untuk itu, penyedia jasa pelayanan kesehatan menerapkan strategi dan kebijakan yang sesuai dengan segmen-segmen pasar yang mereka layani tanpa melupakan aspek ekonomi dan fungsi socialnya, dan juga hal ini akan berdampak pada pola permintaan masyarakat jasa pelayanan kesehatan.

Pembiayaan kesehatan di Indonesia masih menghadapi kendala karena berbagai faktor, utamanya karena keterbatasan anggaran pemerintah. Ini menyebabkan sektor kesehatan masih ditempatkan pada skala prioritas yang rendah dalam memperoleh alokasi dana pembangunan, dan masih tergantung pada kemauan politis. Data pembiayaan kesehatan yang ditunjukkan oleh besaran anggaran yang dialokasikan pemerintah diperkirakan hanya sekitar 2,5% dari Anggaran Pemerintah dan Belanja Begara (APBN). Di Asia, setelah Philipina, Indonesia menempati urutan terbawa dalam penyediaan biaya kesehatan nasional, dengan pengeluaran masih dibawa 5% dari total PDB (Produk Domestik Bruto). Di Negara-negara maju, pengeluaran ini dapat mencapai 10% dari PDB. Menurut Thabrany (2004), alokasi dana perkapita untuk kesehatan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir besarannya kurang dari dua dollar AS per kapita per tahun, atau kurang dari Rp 1.500 per kapita perbulan. Pembiayaan kesehatan dari pemerintah hanya sebesar 30 persen,dan sisanya 70 persen berasal dari dana masyarakat dan swasta.

Perkembangan ilmu kedokteran modern telah membuat penyediaan pelayanan kesehatan menjadi sesuatu yang amat mahal. Semakin maju tingkat social ekonomi masyarakat, semakin banyak permintaan akan pelayanan medis yang bermutu tinggi. Sebaliknya, semakin rendah keadaan sosial ekonomi  suatu masyarakat semakin banyak penyakit, kelemahan, penyakit kronis dan sebagainya terhadap mereka yang tidak dapat mencapai atau menerima pelayanan medis yang memadai.

Pemerintah telah  membangun sarana pelayanan kesehatan baik puskesmas maupun sarana kesehatan lainnya termasuk sarana penunjang upaya kesehatan sampai keseluruh pelosok namun kenyataannya, penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut masih rendah (under utilization), hal ini karena pendekatan –pendekatan yang selama ini cenderung kearah supplay dan sedikit sekali kearah demand,pada hal keduanya merupakan aspek penting dalam penggunaan pelayanan kesehatan. ( Razak 2000).

Dengan jumlah puskesmas yang tergolong cukup banyak itu, masih kurang dimanfaatkan pelayanan kesehatannya oleh masyarakat. Beberapa hasil studi pemanfaatan puskesmas di sulawesi selatan tercatat pada tahun 1998 jumlah kunjungan untuk setiap puskesmas hanya dimanfaatkan sekitar 37% oleh masyarakat sekitar wilayah puseksmas. Dari 1150 hanya digunakan sekitar 425 puskesmas  yang ada diseluruh wilayah Sukawesi Selatan  (BPS Propinsi Sulawesi Selatan).  Banyak faktor yang menyebabkan kurangnya kunjungan ke Puskesmas diantaranya adalah jarak yang terlalu jauh untuk dijangkau, kurangnya pendapatan, serta kurangnya  pengetahuan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tersebut.

Kondisi sekarang yang menjadi persoalan adalah apakah peningkatan jumlah fasilitas kesehatan, terutama puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan mampu meningkatkan kualitas pelayanannya dan sudah berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan atau tidak.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi tenggara ( Sultra ) Tahun 2002  di beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara yaitu Kabupaten Muna, Kabupaten Buton  dan Kabupaten Kendari menunjukkan bahwa  kunjungan Puskesmas masih sangat minim hal ini karena masyarakat merasa bahwa biaya pengobatan yang ditawarkan di puskesmas terlalu mahal, pada hal pelayanan kesehatan yang diterima tidak begitu memuaskan. Sehingga masyarakat cenderung lebih memilih untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan lain seperti dokter praktek dibanding dengan puskesmas. Dengan alasan walaupun biaya pengobatan lebih mahal, namun dapat membuat masyarakat merasa puas.

Faktor lain yang menyebabkan rendahnya kunjungan ke puskesmas adalah rendahnya nilai atau kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang disediakan oleh puskesmas, jarak yang terlalu jauh untuk dijangkau,kurangnya pendapatan serta kurangnya pengetahuan terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hadijah (2008) tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas Labibia Kota Kendari menyatakan bahwa Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari segi pengetahuan responden di dapatkan bahwa dari 253 responden dengan pengetahuan cukup terdapat 94,1 % yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, dan dari  84 responden dengan pengetahuan kurang terdapat 13,1 % responden yang memanfaatkan pelayanan puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari sikap petugas di dapatkan bahwa dari 255 responden dengan sikap petugas baik, terdapat 92,9 % responden yang memanfaatkan  pelayanan puskesmas, dan dari 82 responden dengan sikap petugas buruk terdapat 14, 6 % responden yang memanfaatkan pelayanan puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari pendapatan responden di dapatkan bahwa dari 164 responden dengan pendapatan cukup terdapat 94,5 % responden yang memanfaatkan  pelayanan puskesmas, dan dari 173 responden dengan pendapatan kurang  terdapat 54,3 %  responden yang memanfaatkan pelayanan puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari akses tempat tinggal dengan puskesmas di dapatkan bahwa dari 295 responden yang mudah mengakses puskesmas  terdapat 83,7 % responden yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, dan dari 42 responden yang sulit mengakses puskesmas terdapat 4,8 % responden yang memanfaatkan pelayanan puskesmas

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Izhar Masiala (2006) tentang demand masyarakat Bajo Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Wapunto menyatakan bahwa Tingkat pendidikan responden adalah sebahagian besar responden mempunyai pendidikan kurang yaitu 60 responden dan sisanya mempunyai pendidikan cukup yaitu 19 responden. Tingkat pengetahuan responden sebahagian responden mengatakan  tidak tahu tentang pelayanan kesehatan, tempat untuk mendapatkan pelayanan, manfaat dari pelayanan dan perbedaan puskesmas dengan pelayanan lainnya yaitu 57 responden. Tingkat pendapatan responden sebahagian besar mengatakan bahwa pendapatan mereka kurang dari Rp 450.000/bulan yaitu 40 responden sedangkan sisanya 39 responden adalah cukup Sebahagian besar responden mengatakan bahwa tarif Puskesmas adalah mahal yaitu 42 responden (53,2%), sedangkan 39 responden mengangggap murah. Dilihat dari preferensi, sebahagian besar responden mempunyai preferensi kurang terhadap demand pelayanan kesehatan yaitu 47 responden sedangkan sisanya adalah cukup yaitu 32 responden. Demand Masyarakat Bajo terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Poleang adalah rendah, dimana dari 79 responden yang diwawancarai hanya 25 responden (31,6%) mempunyai demand yang tinggi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hasim (2006) di Desa Kontunaga Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna tentang pemanfaatan pelayanan puskesmas Mabodo, dinyatakan bahwa Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari segi pengetahuan responden di dapatkan bahwa ada sebagian kecil responden ( 9,8 % ) yang mempunyai pengetahuan kurang juga memanfaatkan pelayanan puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari sikap petugas di dapatkan bahwa masih ada sebagian kecil responden ( 26,0 % ) yang setuju dengan sikap petugas tetapi kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari pendapatan responden di dapatkan bahwa ada sebagian besar responden ( 34,9 % )  yang mempunyai pendapatan kurang  juga memanfaatkan pelayanan Puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari jarak tempat tinggal dengan puskesmas di dapatkan bahwa ada sebagian kecil responden ( 40,9 % ) yang mempunyai jarak tempat tinggal dekat dengan puskesmas tetapi kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas.

BAB 4. METODE PENELITIAN

a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survei yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan bagaiman kesiapan rumah sakit dan puskemas se-Sulawesi Tenggara dalam mendukung program BAHTERAMAS Di Sulawesi Tenggara Tahun 2009.

b. Populasi dan Sampel
  1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Rumah Sakit dan Puskesmas se-Sulawesi Tenggara pada tahun 2009, yaitu Rumah Sakit berjumlah 13 unit dan Puskesmas berjumlah 172 unit.

  1. Sampel

Sampel penelitian untuk Rumah Sakit sebanyak 13 unit dari masing-masing Kabupaten 1 unit rumah sakit, yang tersebar dalam 12 Kabupaten dan sebanyak 1 unit RSUP Provinsi. Sedangkan sampel untuk puskesmas dilakukan secara purposive sampling pada tiap Kabupaten dipilih sebanyak 4 unit dimana 1 unit dipilih pada kawasan perkotaan, dan masing-masing 1 unit lainya dipilih puskesmas pada kawasan daerah pesisir pantai dan puskesmas baru yang dimekarkan serta puskesmas daerah terpencil pedesaan yang sulit dijangkau oleh transportasi dan penerangan listrik.

C. Cara Pengumpulan Data
  1. Data Primer

Data primer meliputi data sarana dan prasarana, sumber daya manusia,  kompensasi, dan tarif pelayanan diperoleh dengan menggunakan kuisioner dan chek list.

  1. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait.

D. Pengolahan dan analisis data

Pengolahan data dilakukan secara elektronik dalam komputer dengan menggunakan program Excel. Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif dan disertai penjelasan.

E.  Penyajian Data

Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan diinterpretasikan dalam bentuk   narasi.

BAB 5. ANGGARAN PENELITIAN

Jenis Pengeluaran

Rincian Biaya Yang Di Diusulkan (Rp)

Gaji dan Upah
Peralatan
Bahan Habis Pakai
Perjalanan
Lain-Lain
Total Anggaran
Total Keselurahan Anggaran

RINCIAN ANGGARAN

1. Honorarium Tim Peneliti

No Jenis Jam/Minggu Jumlah Minggu Upah/Jam Jumlah (Rp)
1. Ketua
2 Anggota 1
3 Anggota 2
4 Anggota 3
Sub Total

2. Peralatan

No Uraian Jumlah Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
Sub Total

3. Bahan Habis Pakai

No Uraian Jumlah Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
Sub Total

4. Perjalanan

No Uraian Jumlah Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
Sub Total

5. Lain-Lain

No Uraian Jumlah Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
Sub Total

Total Anggaran : Rp 130. 000. 000 (Seratus Tiga Puluh Juta Rupiah)

NAMA – NAMA TIM PENELITI

  1. DR. Amiruddin AR., M.Kes (KETUA )
  2. Wa Ode Salma., S.St.G., M.Kes (Sekretaris)
  3. Drs. H. Ruslan Madjid, M.Kes (Anggota)
  4. Rahmadhan Tosepu, S.K.M., M.Kes (Anggota)
  5. Suhadi, S.K.M., M.Kes (Anggota)
  6. La Ode Ali Imran Ahmad, S.K.M., M.Kes (Anggota)
  7. Drs. La Ode Kamalia, M.Kes (Anggota)
  8. Hj. Naswati, S.K.M., M.Kes (Anggota)
  9. Fatmawati, S.K.M., M.Kes (Anggota)

10.  Sohani M, S.Gz (Anggota)

11.  Rinda Zelvianingsih, S.E (Anggota)

12.  Pitoyo Saranani, S.Sos (Anggota)

DAFTAR PUSTAKA

Depkes dan Kessos R. I. 2000. Paradigma Baru Puskesmas Di Era Desentralisasi, Yogyakarta.

Depkes R.I. 2000. Kebijakan pengembangan tenaga kesehatan 2000-2010. Jakarta.

Depkes R.I. 2008. Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara.

Hasim. 2006. Studi Demand Pelayanan Kesehatan Di Puskesmas Wapunto Oleh Masyarakat Bajo Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna 2006. Skripsi FKM Unhas Tidak Dipublikasikan.

Hadijah. 2008. Studi Pemanfaatan Pelayanan Puskesmas Labibia Kecamatan Mandonga Kota Kendari Tahun 2008. Skripsi FKM Unhas Tidak Dipublikasikan.

Ishar M. 2006. Studi Pemanfaatan Pelayanan Puskesmas Mabodo Di Desa Kontunaga Kec. Kontunaga Kab. Muna tahun 2006. Skripsi FKM Unhas Tidak Dipublikasikan.

Notoadmojo, S. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan, Cetakan Pertama, PT.Rineka Cipta, Jakarta.

Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara, 2008. Bank Sejahtera-Bahtermas. Kendari

Www. Sultra. Go. Id. Dirgahayu Propinsi Sulawesi Tenggara ke 44 dan Peluncuran Program Bahteramas. 2008

Www. NTB. Com. Renstrada provinsi NTB 2003-2008. 2003

Www. Portal Kota Kendari. Com. Peluncuran Program Banhteramas. 2008

INSTRUMEN PENELITIAN

(Untuk Rumah Sakit)

======================

Nomor Kode:

Nama Rumah Sakit       :

No. Izin Pendirian         :

Status Kepemilikan       :

Klasifikasi RS               :

Jumlah Bed/T4 Tdr       :

No.Urut Responden     :

Jabatan                         :

  1. A. KUESIONER
    1. a. Kesiapan Rumah Sakit :
    2. Apakah Saudara mengenal program Bahteramas di bidang kesehatan?          Ya / Tdk
    3. Jika jawaban ya, apakah di RS Saudara bekerja program Bahteramas sudah berjalan? Ya / Tdk
    4. Jika jawaban tidak, berikan alasan mengapa program Bahteramas tidak berjalan di RS Saudara. Jelaskan:……………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………
    5. Bagaimana pandangan Saudara dengan program Bahteramas di RS ? Jelaskan: ……………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………
    6. Apakah semua staf di RS tidak keberatan menghadapi pelayanan peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  1. b. Fasilitas Pelayanan di Rumah Sakit :
  2. Apakah fasilitas pelayanan rawat jalan di RS tersedia lengkap untuk peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  3. Apakah fasilitas pelayanan rawat inap di RS tersedia lengkap untuk peserta program Bahteramas.? Ya / Tdk
  1. c. Sumber Daya Manusia (SDM) Petugas Medis/Kesehatan di Rumah Sakit :
  2. Apakah tenaga dokter Spesialis tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS?     Ya / Tdk
  3. Apakah tenaga dokter umum tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS?          Ya / Tdk
  4. Apakah tenaga dokter gigi tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk
  5. Apakah tenaga perawat tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk
  6. Apakah tenaga bidan tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk
  7. Apakah tenaga apoteker tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk
  8. Apakah tenaga kesehatan masyarakat tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk
  9. Apakah tenaga Nutrisian (ahli gizi) tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk
  10. Apakah tenaga keterapian fisik (fisioterapi) tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk

10.   Apakah tenaga ketehnisian medis (elektro medis) tersedia sesuai kebutuhan pelayanan RS? Ya / Tdk

  1. d. Sarana dan Prasarana Pendukung Pelayanan di Rumah Sakit :
  2. Apakah obat-obatan untuk pasien peserta program Bahteramas di RS Saudara selalu tersedia sesuai kebutuhan pada saat dibutuhkan? Ya / Tdk
  3. Apakah bahan habis pakai untuk peserta program Bahteramas di RS Saudara selalu tersedia sesuai kebutuhan pada saat dibutuhkan? Ya / Tdk
  4. Apakah sarana dan prasarana pemeriksaan laboratorium tersedia lengkap untuk pasien peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  5. Apakah sarana dan prasarana pemeriksaan radiologi tersedia lengkap untuk peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  6. Apakah sarana dan prasarana penunjang lain seperti ambulance selalu tersedia pada saat dibutuhkan untuk peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  1. e. Jenis Pelayanan di Rumah Sakit :
  2. Apakah pelayanan “medis dasar” tersedia sesuai kebutuhan peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  3. Apakah pelayanan medis spesialistik tersedia sesuai kebutuhan peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  4. Apakah pelayanan rawat darurat tersedia secara memadai sesuai kebutuhan untuk pasien program Bahteramas? Ya / Tdk
  5. Apakah pelayanan keperawatan tersedia secara memadai untuk peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  6. Apakah pelayanan kebidanan tersedia secara memadai untuk peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  7. Apakah pelayanan bedah tersedia secara memadai untuk peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  8. Apakah pelayanan nutrisi pasien peserta program Bahteramas tersedia secara memadai? Ya / Tdk
  9. Apakah pelayanan laboratorium untuk peserta program bahteramas tersedia secara memadai? Ya / Tdk
  10. Apakah pelayanan radiologi untuk peserta program bahteramas tersedia secara memadai? Ya / Tdk

10.  Apakah pelayanan farmasi untuk pasien program Bahteramas tersedia secara memadai? Ya / Tdk

  1. f. Dana Operasional Rumah Sakit :
  2. Berapa besar dana operasional tahun anggaran berjalan sebutkan: Rp……………
  3. Sumbernya dari mana saja: ……………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………
  4. Apakah dana operasional tersebut dinilai cukup: Ya / Tdk
  5. Apakah tersedia alokasi dana khusus untuk program Bahteramas; Ya / Tdk
  6. Jika tersedia berapa jumlahnya sebutkan: Rp …………………………………………….
  1. g. Sistem Pelayanan Rumah Sakit :
  2. Apakah sistem pelayanan rumah sakit semuanya sudah terstandarisasi di RS Saudara bekerja? Ya / Tdk
  3. Apakah tersedia pedoman khusus pelayanan kesehatan bagi peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  1. h. Sistem Kompensasi Pelayanan Rumah Sakit :
  2. Apakah tersedia dana insentif bagi tenaga kesehatan khusus untuk pelayanan peserta program Bahteramas? Ada / Tdk ada
  3. Jika ada, berapa besarnya sebutkan : Rp ……………………………………………………
  4. Apakah besarnya kompensasi pelayanan Bahteramas dapat memberi motivasi kerja yang tinggi untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi peserta program Bahteramas? Ya / Tdk
  1. i. Sistem Pentarifan (paket pelayanan esensial) di Rumah Sakit :
  2. Apakah ada tarif khusus pelayanan yang berlaku untuk peserta program Bahteramas? Ada / Tdk ada
  3. Jika ada, siapa yang menetapkan tarif tersebut. Sebutkan:……………………………
  4. Apakah tarif yang berlaku bagi peserta program Bahteramas dapat memberi insentif bagi pelayanan pemberi pelayanan? Ya / Tdk
  1. j. Sistem Pengajuan Klaim Penggantian (reimbursement) di Rumah Sakit :
  2. Bagaimana sistem kapitasi dalam mengajukan klaim yang berlaku untuk peserta program Bahteramas? Jelaskan:…………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………
  3. Bagaimana sistem fee for services dalam pembayaran klaim pasien program Bahteramas? Jelaskan:…………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………
  4. Bagaimana budget system dalam penggantian klaim peserta program Bahteramas? Jelaskan:…………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………
  1. k. Peningkatan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit :
  2. Apakah RS T4 Saudara bekerja ada upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan khususnya bagi peserta program Bahteramas? Ada / Tdk ada
  3. Jika ada, sebutkan upaya-upaya peningkatan kualitas pelayanan yang Saudara sudah lakukan atau sementara berjalan di RS ini. Jelaskan:…………………………. ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………

  1. B. LEMBAR OBSERVASI

  1. a. Kesiapan Rumah Sakit :

Masyarakat peserta program Bahteramas terlayani dengan baik:

1. Terlayani dengan baik

2. Kurang terlayani

3. Tidak terlayani

  1. b. Fasilitas Pelayanan Rumah Sakit :

1. Tersedia lengkap fasilitas pelayanan RS

2. Tersedia cukup  fasilitas pelayanan RS

3. Kurang/tidak tersedia fasilitas pelayanan RS

  1. c. Sumber Daya Manusia (SDM) Petugas Medis/kesehatan di Rumah Sakit :
  2. Tersedia lengkap SDM di RS
  3. Tersedia cukup SDM di RS
  4. Kurang tersedia SDM di RS
  1. d. Sarana dan Prasarana Pendukung Pelayanan Rumah Sakit;
  2. Tersedia lengkap obat-obatan di RS
  3. Tersedia cukup obat-obatan di RS
  4. Tidak tersedia obat-obatan RS
  5. Tersedia lengkap bahan habis pakai di RS
  6. Tersedia cukup bahan habis pakai di RS
  7. Tidak tersedia bahan habis pakai di RS
  8. Tersedia lengkap sarana/prasarana pemeriksaan laboratorium RS
  9. Tersedia cukup sarana/prasarana pemeriksaan laboratorium RS
  10. Tidak tersedia sarana/prasarana pemeriksaan laboratorium RS

10.  Tersedia lengkap sarana/prasarana pemeriksaan radiologi di RS

11.  Tersedia cukup sarana/prasarana pemeriksaan radiologi di RS

12.  Tidak tersedia sarana/prasarana pemeriksaan radiologi di RS

  1. e. Jenis Pelayanan Rumah Sakit :
  2. Pelayanan medis dasar untuk pasien tersedia sesuai kebutuhan: Ya / Tdk
  3. Pelayanan medis spesialistik untuk pasien tersedia sesuai kebutuhan: Ya /Tdk
  4. Pelayanan rawat darurat untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk
  5. Pelayanan keperawatan untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk
  6. Pelayanan kebidanan untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk
  7. Pelayanan bedah untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk
  8. Pelayanan nutrisi untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk
  9. Pelayanan laboratorium untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk
  10. Pelayanan radiologi untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk

10.  Pelayanan farmasi untuk pasien tersedia secara memadai: Ya / Tdk

  1. f. Sistem Kompensasi Pelayanan Rumah Sakit :
  2. Tersedia dana insentif bagi tenaga medis/kesehatan khusus untuk pelayanan peserta program Bahteramas: Ya / Tdk
  3. Besarnya dana: Cukup / Tdk
  4. Besarnya kompensasi/insentif bagi petugas medis/kesehatan dapat memberi motivasi kerja yang tinggi untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik: Ya / Tdk
  1. g. Sistem Pentarifan (paket pelayanan esensial) Rumah Sakit :
  2. Ada tarif khusus pelayanan yang berlaku untuk peserta program Bahteramas: Ya / Tdk
  3. Tarif yang berlaku bagi peserta program Bahteramas dapat memberi insentif bagi pelayanan pemberi pelayanan: Ya / Tdk
  1. h. Peningkatan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit :
  2. Jika ada, bentuk upaya-upaya peningkatan kualitas pelayanan yang sudah dilakukan atau sementara berjalan di RS ini Yaitu:……………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………

================== SEMOGA SUKSES =====================


%d blogger menyukai ini: